Jaffray Bittikaka

21 November 2006

Kendari Promo : Legitimasi & Sponsor

Semenjak tahun 2004 sampai sekarang, saya merintis dan membangun usaha dengan modal sederhana (zero cost) untuk menyalurkan hobby yang sudah menjadi bakat dan minat saya. termotivasi dan terispirasi dengan apa yang pernah saya buat dan lihat di dunia event, ketika di Kendari melihat peluang yang masih terbuka lebar...wah ini peluang yang cepat diambil. dengan mengusung brand Kendari Promo, sengaja mengambil identitas nama kota, sehingga tidak sedikit karena nama cukup mempengaruhi tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan klien kami. sampai akhir tahun 2006 ini sudah 26 event yang kami buat di kota Kendari. kenapa kami? karena EO tidak bisa dikerjain sendiri, saya memiliki team work. saya melihat sendiri banyak pengalaman EO ditangani oleh pribadi, tidak bertahan lama.
legitimasi pun berdatangan, baik dari dalam kota maupun dari luar kota. walaupun kami masih tidak yakin dengan kemampuan team karena berada di kota kecil. tapi itulah hasil kerja keras, jerih payah team untuk menciptakan brand image di masyarakat, klien (sponsor kami yang tetap setia). dalam mengerjakan project, kami menyadari kalau klien kami adalah rekan, teman dan sahabat. sehingga harus saling memberi nilai lebih dari apa yang dikerjakan. karena event yang sukses, bukan hanya milik EO, juga miliki sponsor. tapi kami sama-sama meningkatkan brand awareness, corporate/product, menambah prospek, mendekatkan diri dengan costumer serta networking. memasuki tahun ke 3 di 2007, kami menyadari banyak hal yang harus di evaluasi. meningkatkan profesionalitas kerja, manajemen yang lebih baik, juga yang pasti relationship dengan sponsor-sponsor kami, klien kami, juga vendor kami di lapangan, teman2 musisi di kota Kendari, media cetak dan elektronik, dan semua yang menjadi sumber inspirasi kami.

Event Organizer : Kreatif dan Inovasi

"Acaranya bagus, bintang tamunya oke, panggungnya keren," Pujian seperti itu kerap kali muncul setelah kita menyaksikan sebuah pertunjukan. Banyak yang nggak tahu, suksesnya sebuah pertunjukan atau acara nggak lepas dari kerja keras beberapa orang kreatif yang tergabung pada sebuah tim. Mereka lebih dikenal dengan sebutan EO "Event Organizer". Gampang-gampang susah, kata yang pantas kalo kita berbicara tentang aktifitas EO. Bisa mengemas acara yang menarik, sehingga semua tamu atau orang yang datang untuk menyaksikan acara tersebut dapat terpuaskan, bukan hal yang gampang. Kita membutuhkan ide-ide kreatif sehingga acara yang dibuat tidak membosankan. Tapi, EO juga tidak bisa dikendalikan satu orang saja, dibutuhkan banyak orang yang satu tujuan dan mau saling bekerjasama. Kalo ketemu sama tim yang solid, semuanya jadi terasa lebih gampang. Dalam satu tim, bukan orang yang otaknya jago saja yang diandalkan, tapi lebih kepada kebersamaannya. Dalam EO kita butuh sama orang yang mau bekerja keras, tidak kenal waktu, pintar berkomunikasi, cekatan dan peka. Bekerja keras, karena dalam membuat sebuah acara sifatnya hanya sesaat dengan kata lain, untuk membuat sebuah acara satu hari penuh, kita butuh waktu persiapan tiga bulan, sebulan, dua minggu atau seminggu. Dalam waktu itu, kita dituntut untuk bekerja keras melakukan persiapan sehingga ketika hari "H" semua berjalan lancar. Pintar berkomunikasi, mulai dari persiapan acara hingga saat acara berlangsung orang EO memang paling nggak bisa diam. Melakukan lobby adalah kunci utama, karena dalam membuat acara kita butuh dana, dan untuk mendapatkan dana tersebut, kita mesti cari sponsor. Banyak yang mengakui mereka yang biasa bergerak di bidang EO kendala pertama muncul pada sponsor. Apalagi kalo ini kali pertama kia bikin EO. Kunci utama disini adalah komunikasi yang bagus dan kepercayaan. Kalo kita bisa berkomunikasi maka akan tercipta sebuah kerja sama dan akhirnya tumbuh rasa saling percaya. Bagaimana caranya kita mampu membuat sponsor yakin kalo dia bakal untung banget mau bekerjasama dengan kita.Lewat proposal yang oke kita gaet sponsor dan berusaha untuk dapat memuaskan mereka. Membuat acara yang bagus, menarik dan berkualitas, dalam waku yang relatif pendek, pasti dong kita nggak bisa main-main dan lambat. Semua harus cekatan ngurusin banyak hal, muali dari pembuatan proposal, mencari sponsor, menghubungi pengisi acara, promosi, membuat rundown (skenario) acara, konsumsi, peralatan dan masih banyak lagi yang lainnya. Sejarah Event Organizer Di Indonesia pola kerja EO sudah lama ada dimulai dari pesta-pesta adat dimana panitia pesta tersebut mulai membagi tugas masing-masing untuk mendukung suksesnya suatu acara. Sedangkan istilah EO di Indonesia mulai populer sekitar tahun 1990an dan semakin populer lagi pada tahun 1998 pacsa era krisis dimana begitu banyak tenaga kerja yang keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dengan berbagai alasan dan mulailah mencari alternatif sumber penghasilan yang lain seperti EO. EO sendiri adalah penyelenggara sebuah acara atau kegiatan yang terdiri dari serangkaian mekanisme yang sistematis dan memerlukan ketekunan, kesungguhan serta kekompakan kerja tim dimana acara tersebut dipadati dengan deadline, target, sceduling, pressure dan teamwork solidity. Sedangkan peran EO adalah melaksanakan penyelenggaraan sebuah event berdasarkan pedoman kerja dan konsep event tersebut dan mengelolanya secara profesional. Yang Mesti Ada Di EO Menurut Director CV Procom, Sofian Kamal Nasution, yang diperlukan untuk mendirikan sebuah EO adalah, motivasi, database, network, permodalan dana segar yang cukup, SDM yang dinamis dan pekerja keras, teamwork spirit, creativity, imagination dan konsep, keahlian individu yang tepat guna, nggak gaptek, personal yang baik, inisaitif yang tinggi, jeli, cermat dan peka terhadap perkembangan. "Orang-orang di EO mesti menerapkan Do Innovated Or Die, jadi di EO tersebut adalah kumpulan orang-orang kreatif yang penuh inovatif," ujar Bang Sofian. Siapapun bisa membuat EO. Anak-anak sekolah misalnya, kalo berminat juga dapat membuat EO, bisa saja dimulai dari mengemas acara Sweet Seventeen sobat terdekat, Pentas Seni, Acara Perpisahan dan Pelombaan antar kelas atau antar sekolah. Apalagi yang sebentar lagi akan tamat sekolah biasanya menagdakan Prom Nite, dan biasanya yang mengadakan atau yang menjadi panitia pun adalah kita-kita juga. Nggak masalah kalo kita baru pertama kali menangani event, Yang terpenting adalah ide kreatif yang muncul di otak yang kemudian kita kembangkan menjadi sebuah konsep. Setelah konsep ada, baru deh kita memikirkan bagaimana bisa mengumpulkan dana agar acara tersebut dapat dijalankan. Dan kalo kita berbicara mengenai dana, pasti dong nyari sponsor. Di bagian ini yang paling penting adalah kepercayaan. Kalo pihak terkait udah percaya sama kita semuanya akan jauh lebih ringan, misalnya untuk penyewaan sound kita bisa tangguhkan pembayarannya setelah acara berlangsung, atau setelah dananya ada. Ditambahkan bos Procom salah satu EO terkenal di Medan, nggak perlu banyak orang yang terlibat dalam sebuah EO. "Semua tergantung dari besar kecilnya EO tersebut dan besar kecilnya event yang ditangani," kata Bang Sofian. Sekarang ini, anak-anak muda juga telah banyak menunjukkan kreatifitas mereka dalam membuat sebuah acara. Di Jakarta dan Bandung tampaknya anak-anak sekolahan berlomba-lomba membuat pentas seni, bazar bahkan mereka sanggup menampilkan konser grup band yang tengah digandrungi anak muda. Kalo memang kamu tertarik untuk menampilkan kreativitas, sekarang saatnya kamu belajar untuk memenej diri sendri dan orang lain. Yang berjiwa pemipin mungkin bisa ditunjuk sebagai ketua panitia. Yang jago ngomong dan ngerayu bisa di jadiin humas atau marketing yang fungsinya mencari sponsor dan mempromosikan acara. Yang jago ngedesign bisa dijadiian tim kreatif buat proposal dan media promosi. Terus tinggal cari yang gaul dan lincah buat dikasih tanggung jawab saat acara berlangsung. Terpenting di sini adalah kerjasama yang solid. (k05) (eli) WASPADA Online

10 November 2006

Future Leades

Kondisi bangsa yang terus bergejolak, menjadi tanggung jawab pemuda dan mahasiswa yang menjadi tumpuan harapan bangsa ini. harus diakui bangsa ini krisis pemimpin, ketika pemilu dilaksanakan, entah langsung ataupun lewat voting, proses demokrasi yang diharapkan kerap hanya isapan jempol belaka. tarik tarikan massa, wacana, sampai clash action mengarah fisik pun tidak terelakkan.
dimanakan peranan pemuda bangsa ini?
miliki visi, tujuan hidup, arah yang jelas tentang bakat dan minat juga harus menjadi bekal kelak kalau mau jadi pemimpin. proses empowering dan monitoring ini yang harus disiapkan mulai sekarang,kita tidak bisa hanya bertanya dimanakah peranan? tapi siapa yang mau mempersiapkan? sampai dimana proses mentoring itu? infrastruktur apa yang sudah disiapkan? seperti inilah pijakan awal yang harus direnungkan sehingga betul-betul ada target jelas tentang konsep kepemimpinan bangsa ini kedepan. jangan sampai generasi bangsa ini di era 10 tahun atau 30 tahun kedepan, akan bertanya - apa yang dikerjakan bangsa ini selama mereka belum ada?
wacana ini hanya pembuka dari artikel yang akan saya tampilkan kedepan.

25 September 2006

Asal Usul Kata Transformasi

TRANSFORMASI …???
Asal Usul Kata
Akhir – akhir ini banyak orang mulai menggunakan kata transformasi. Jargon ini berkembang dan dipakai oleh banyak pejabat, tokoh agama, akademisi, selebriti bahkan orang kebanyakan yang hanya sekedar ikut - ikutan meramaikan dan mempopulerkan jargon ini. Kata transformasi tidak terlepas dari kata Reformasi yang populer pada masa sebelumnya. Asal kata Transformasi tidak terlepas dari kata Reformasi yang populer pada masa sebelumnya. Asal kata keduanya berasal dari bahasa Inggris yang secara kesepakatan umum diserap kedalam bahasa Indonesia setelah banyak yang menggunakan kata tersebut untuk suatu maksud tertentu. Reformasi berasal dari dua kata ‘re’ yang berarti kembali dan ‘form’ yang berarti bentuk. ”Reform” berarti membentuk, menyusun, mempersatukan kembali (Kamus Inggris-Indonesia versi John. M. Echol).
Pengertian lain dari Kamus besar Bahasa Indonesia tahun 1988 menjelaskan bahwa reformasi merupakan perubahan radikal untuk perbaikan (bidang sosial, politik, keagamaan) dalam suatu masyarakat atau negara. Dengan demikian reformasi dapat diartikan membentuk kembali sesuatu pada tempatnya semula. Reformasi sering dipakai orang atau sekelompok orang untuk meruntuhkan sebuah tirani, kediktatoran, dogma atau kondisi terbelenggu oleh sesuatu yang menguasai dan menyengsarakan orang banyak. Akan tetapi dampak dari bergulirnya reformasi sering tidak sesuai dengan yang diharapkan, hal ini disebabkan tidak adanya batasan bahkan patokan kesepakatan tiap reformis sampai sejauh mana reformasi itu diperlukan, sehingga mudah sekali ditunggangi oleh kepentingan tertentu dari sekelompok orang. Apa yang sesuai atau tidak, apa yang perlu disusun kembali atau apa yang sudah baik sering menjadi persepsi subjektif yang bertentangan antar kelompok. Hasil yang diperoleh membuat dampak akan kebebasan yang tak terarah dan tanpa tujuan atau sering disebut dengan istilah sekarang “reformasi kebablasan”. Dengan semangat menetapkan tujuan yang jelas dan menghindari pemanfaatan oleh sekelompok kepentingan maka muncul kata transformasi.
Istilah transformasi bukanlah fashion yang sedang naik daun mengikuti trend. Kata transformasi berasal dari dua kata dasar, ‘trans dan form.’ Trans berarti melintasi dari satu sisi ke sisi lainnya (across), atau melampaui (beyond); dan kata form berarti bentuk. Transformasi mengandung makna, perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar saja.Transformasi sering diartikan adanya perubahan atau perpindahan bentuk yang jelas, pemakaian kata transformasi menjelaskan perubahan yang bertahap dan terarah tetapi tidak radikal. Walaupun demikian pengertian transformasi sendiri secara konkret masih suatu wacana yang membingungkan, banyak pandangan yang berbeda dari pemakaian kata tersebut yang hanya disesuaikan dengan perspektif parsial para penggunanya.
Sebagai contoh, para ahli perdamaian juga menggunakan kata transformasi dalam mengkonsepkan perubahan suatu situasi konflik politik menuju perdamaian (Hugh Miall, 1999). Kemudian seorang dekan di Universitas Indonesia baru – baru ini menggunakan kata transformasi untuk menunjuk pada perubahan sistem dalam fakultasnya yang menjadi visi baru kepemimpinannya, yang menjelaskan bahwa transformasi adalah kembali kepada norma dan kaidah dasar dan universal khususnya yang berlaku pada sebuah institusi pendidikan seperti: suasana akademik, kejujuran, ketaatan pada aturan, keteladanan serta kesejawatan dan kesantunan (www.fk.ui.ac.id). Sementara itu pemerintah Kota Medan juga menggunakan kata transformasi merujuk pada perubahan dalam kebijakan pembangunan yang menjadi visi & misi kotanya (www.pemkotmedan.go.id). Keberagaman tersebut menempatkan transformasi pada lingkup yang terbatas, padahal maknanya sendiri sangat luas. Hal ini menuntut benang merah yang jelas sehingga transformasi bukan sekedar jargon yang tak bermakna dan berakhir dengan istilah ” transformasi kebablasan” .
Tinjauan Leksikal
Memahami sebuah kata tidak bisa dilepaskan dari batasan artinya menurut kamus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), transformasi adalah sebuah kata benda yang berarti perubahan rupa, bentuk (sifat, dsb). Transformasi dalam bentuk kata kerja menjadi mentransformasikan, yang berarti mengubah rupa, bentuk (sifat, fungsi, dsb) dan juga berarti mengalihkan. Pengertian sama dijelaskan oleh kamus yang lain yaitu Advanced English-Indonesian Dictionary (1988) menjelaskan yang dimaksud transformation adalah perubahan bentuk dan dalam bentuk kata kerja merubah bentuk. Selanjutnya, Oxford Learner’s Pocket Dictionary (1995) menyebutkan transform sebagai kata kerja adalah ”change completely the appearance or the character of”. Berarti perubahan bentuk penampilan atau karakter secara total.
Pandangan Para Pakar
Pemahaman kata transformasi sangat diperlukan dalam transformasi pembangunan nasional Indonesia, dengan demikian perlu kesamaan persepsi dari sudut pandang berbagai pakar atau ahli di semua bidang. Berikut beberapa sudut pandang pakar tentang transformasi dan kaitannya dengan pembangunan Indonesia. Salah satu pakar kesehatan masyarakat, Dr. Clara M Kusharto, M.Sc (IPB) menjelaskan bahwa transformasi berasal dari kata ”trans” yang berarti perpindahan atau pengalihan dan kata ”form” yang berarti bentuk (dalam hal positif). Dengan demikian dapat diartikan sebagai pengalihan atau perpindahan bentuk kearah yang positif, akan tetapi maknanya tidak sama dengan reformasi. Dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik, beliau menegaskan yang sangat krusial adalah transformasi bidang kesehatan masyarakat walaupun tetap harus memperhatikan juga bidang lainnya. Peningkatan perilaku sehat masyarakat akan meningkatkan derajat kesehatannya, dengan masyarakat yang sehat maka kemampuannya melakukan aktivitaspun akan meningkat sehingga diharapkan mampu berusaha mensejahterakan dirinya.
Dr.drh.Ligaya Tumbelaka,SpMP,MSc (IPB) Pakar bidang Kedokteran Hewan dan Satwa Liar menjelaskan bahwa pertama kali mendengar kata transformasi maka terlintas makna perubahan. Perubahan tersebut bukan pembentukan ulang sesuatu atas kepentingan suatu kelompok atau kepentingan tertentu. Ini berarti bahwa transformasi harus tidak ditunggangi kepentinganertentu, terlebih transformasi terhadap masyarakat. Masyarakat harus diberikan pilihan menentukan sendiri harapan dan perubahan yang diinginkannya sehingga sesuai dengan kondisi lokal yang ada (community base). Masyarakat harus didorong menjadi ”dewasa” dalam arti bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Masyarakat yang dewasa mampu saling memahami perbedaan dan mempunyai kesadaran penuh akan tindakan dirinya terhadap sekitarnya. sebagai contoh perlunya tranformasi pola pikir dan pola perilaku kita terhadap keberadaan siklus ekosistem hayati, apabila salah satunya diputus dengan tidak bertanggungjawab maka pada akhirnya keberadaan kitapun akan terganggu.
Dr. Ignasius D.A.Sutapa Salah satu Pakar Teknologi Kimia dan Lingkungan (LIPI) dan Direktur PUKAT BANGSA menjelaskan bahwa transformasi tampaknya bukan merupakan kata asli bahasa indonesia. Kata ini berasal dari bahasa asing (inggris) Transformation (kata benda). Sedangkan bentuk kata kerjanya transform yang mengandung tiga arti yaitu Mengubah bentuk; Menjelmakan, mengubah penampilan; Merubah (energi potensial menjadi energi kerja : panas menjadi tenaga). Sehingga kata ini apabila dipakai dengan kata lain misalnya transformasi masyarakat, maka kata tersebut dapat bermakna perubahan bentuk (fisik, struktur, sistem sosial) masyarakat, perubahan penampilan (sikap, paradigma, tingkah laku, kebiasaan), merobah dalam arti memanfaatkan/memberdayakan potensi (energi potensial) masyarakat untuk lebih berdayaguna atau berhasilguna (terampil, mandiri, dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri). Untuk kondisi saat ini, bagian terpenting yang harus terjadi dalam masyarakat adalah perubahan sistem yang berlaku di masyarakat atau negara. Selama 60 tahun Indonesia merdeka, sistem yang berlaku di masyarakat belum mampu melahirkan/mencetak masyarakat (sebagai suatu entitas negara) yang mempunyai sikap, perilaku, paradigma ataupun kebiasaan yang terampil, mandiri, kreatif, produktif. Sistem dalam hal ini tentu berkaitan dengan sistem kepemerintahan, sistem politik, sistem perekonomian, sistem pendidikan, sistem sosial dll.
Dari berbagai pandangan tersebut kesamaan makna transformasi terletak pada perubahan bentuk atau penampilan yang total dengan tujuan yang jelas dan bertahap, akan tetapi masih diperlukan pandangan dari bidang - bidang lainya agar penggunaannya lebih terarah dan mampu mereduksi subjektifitas parsial yang tercipta, sehingga kesepahaman makna transformasi lebih berdampak. Hal yang pasti dan jelas bahwa Transformasi sangat dibutuhkan khususnya dalam pembangunan masyarakat Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik.(YR/Pukat)


 
- -